Heboh Sastra Masuk Kurikulum Merdeka, Apa Kata Dunia?

- 26 Mei 2024, 20:31 WIB
Sastra Masuk Kurikulum, apa kata dunia?
Sastra Masuk Kurikulum, apa kata dunia? /

 

LAMPUNG INSIDER -- Sastra masuk kurikulum baru saja diluncurkan, memunculkan polemik. Baik soal pemilihan buku, maupun kurator yang dipilih. 

Berikut ini tulisan Akmal Nasery Basral, novelis.

1/
Apa persamaan antara buku sastra dan 'Jenderal' Nagabonar, sang pencopet fiktif nan legendaris? Jawab: keduanya sama-sama masuk Kurikulum Merdeka.

Kok bisa? Nah, ini sebabnya. Mulai tahun ajaran baru 2024, novel _Nagabonar Jadi 2_ (2007) yang saya tulis termasuk dalam daftar 105 karya sastra rekomendasi Kemendikbudristek bagi para siswa jenjang SMA/SMK/MA/MAK di seluruh Indonesia.

Karya sastra lainnya pada kelompok ini adalah _Belenggu_ (Armijn Pane, novel, 1940), _Atheis_ (Achdiat K. Mihardja, novel, 1949), _Robohnya Surau Kami_ (AA Navis, cerpen, 1956), _Raumanen_ (Marianne Katoppo, novel, 1977), _Bumi Manusia_ (Pramoedya Ananta Toer, novel, 1980), _Orang-Orang Bloominton_ (Budi Darma, kumpulan cerpen, 1980), _Burung-Burung Manyar_ (Y.B. Mangunwijaya, novel, 1981), _O, Amuk, Kapak_ (Sutardji Calzoum Bachri, kumpulan puisi, 1981), _Adam Makrifat_ (Danarto, kumpulan cerpen, 1982), _Ronggeng Dukuh Paruk_ (Ahmad Tohari, novel, 1982), _Canting_ (Arswendo Atmowiloto, novel, 1986), _Merahnya Merah_ (Iwan Simatupang, novel, 1987), _Dilarang Mencintai Bunga-Bunga_ (Kuntowijoyo, cerpen, 1992), _Saksi Mata_ (Seno Gumira Ajidarma, cerpen, 1994), _Malu Aku Jadi Orang Indonesia_ (Taufiq Ismail, puisi, 1998), _Gadis Kretek_ (Ratih Kumala, novel, 2012), dan _Laut Bercerita_ (Leila S. Chudori, novel, 2017), untuk menyebut beberapa contoh.

Apakah saya senang? Tentu saja. Tak bisa dipungkiri secercah rasa bungah muncul mendekati sensasi bahagia yang saya alami saat cerpen bahasa Inggris saya “Swans of The Rising Sun” bersanding dengan karya Günter Grass, penerima Nobel Sastra 1999, dalam antologi solidaritas sosial 42 penulis internasional dari 15 negara berjudul _Project Sunshine for Japan_ (2013) yang digagas Mansoureh Rahnama dari Universitas Dortmund, Jerman. (Cerpen itu kemudian saya kembangkan menjadi novel bahasa Indonesia berjudul _Te o Toriatte (Genggam Cinta)_ diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2019).

Namun yang mereduksi sukacita saya atas keberuntungan _Nagabonar Jadi 2_ terpilih sebagai novel rekomendasi program “Sastra Masuk Kurikulum” adalah tersebab info itu saya ketahui dari informasi media massa dan berkas PDF “Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra” setebal 784 halaman yang lalu-lalang di media sosial. Bukan dari pemberitahuan resmi Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek sebagai penanggungjawab program “Sastra Masuk Kurikulum” kepada saya sebagai penulis buku. Tak ada surat pemberitahuan resmi, apalagi undangan menghadiri acara.

Padahal dengan sebagian pengarang yang sudah wafat pada daftar buku rekomendasi, serta konperensi pers dan peluncuran program yang dihelat besar-besaran di Kemendikbud, Senin lalu (20/5), apa sulitnya menghormati para pengarang yang masih hidup dan karya mereka tercantum pada daftar 177 karya sastra rekomendasi (43 karya untuk SD/MI, 23 karya untuk SMP/Mts, 105 karya untuk SMA/MI)? Apalagi di era digital ketika para pengarang memiliki akun media sosial di pelbagai aplikasi yang mudah dihubungi.

Halaman:

Editor: Isbedy Stiawan ZS


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah